
Ingin Cantik Alami? Ini Tips yang Dipraktikkan Sejak Zaman Nabi
Banyak dari kita yang kebingungan menjelaskan kata ‘cantik’, hingga muncul pameo, “cantik itu relatif, tapi jelek mutlak”.
Penilaian cantik umunya dipandang hanya berdasarkan keindahan fitur wajah dan lekuk tubuh semata. Atau kita sendiri yang menciptakan batas-batas diskriminatif atas cantik itu sendiri.
Cantik merupakan suatu hal yang sangat relatif dan berbeda bagi setiap orang. Sebuah riset menyebutkan bahwa kecantikan bisa dilihat dari kriteria tertentu. Ada yang menyebutkan bahwa tiga kategori penilaian untuk definisi kecantikan adalah beauty, brain, dan behavior.
Beauty merupakan penilaian secara fisik, brain adalah penilaian berdasarkan kemampuan intelektual, dan behaviour adalah definisi kecantikan melalui penilaian perilaku. Namun, secara otomatis, definisi kecantikan berdasarkan tampilan fisik memainkan porsi paling besar dalam menentukan standar kecantikan.
Kali ini kita bahas cantik dalam artian beauty, seperti tips cantik yang ada sejak zaman kenabian, dan masih abadi sampai saat ini.
Anjuran Perempuan Jaga Kecantikan
Mengutip Fimela.com, Islam mengajarkan kita untuk menghargai keindahan, baik yang Illahi maupun yang diciptakan. Dan sudah menjadi sifat dasar manusia yang senang melihat keindahan.
Maka tak heran jika perempuan dianjurkan untuk menjaga kecantikannya. Tren perawatan diri pun sudah ada sejak zaman para nabi. Banyak tips kecantikan ditemukan dalam Sunnah. Namun perlu diingat dalam Islam bukan hanya kecantikan luar saja yang bisa dilakukan.
Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu’alaih dalam sebuah kitab seperti dikutip dari mengatakan wajah seseorang sedikit banyak dipengaruhi oleh perilakunya.
Baca Juga : 5 Daftar Tips Tampil Cantik Setelah Melahirkan Yang Simple Dan Mudah Di Lakukan
“Orang yang jujur, kejujuran akan memancar pada wajah. Sehingga wajahnya akan tampak lebih cerah. Sebaliknya orang yang sering berdusta dan banyak melakukan dosa, wajahnya akan tampak lebih tua,” ujarnya.
Tiga Tips Ini Mudah Sekali Digunakan
Nah, berikut beberapa perawatan pra- tanggal Islam dan telah digunakan sejak zaman kuno yang masih bisa digunakan hingga saat ini, dilansir dari berbagai sumber.
1. Siwak
Siwak telah digunakan selama lebih dari 7.000 tahun untuk membuat gigi dan mulut menjadi bersih. Kualitas antimikroba menghilangkan bakteri yang mencegah kerusakan gigi dan bau mulut.
Siwak telah banyak digunakan oleh Nabi (SAW), seperti yang braxtonatlakenorman.com dikutip Abu Hurairah (RA): “Jika bukan itu akan menyulitkan bangsa saya, maka saya akan memerintahkan mereka untuk menggunakan siwak untuk setiap doa”. Berbentuk tongkat kecil yang terbuat dari pohon Salvadora Persica, digosokkan pada gigi. Nabi (SAW) membersihkan giginya dengan siwak sebelum berdoa dan di waktu lain juga.
2. Menggunakan minyak rambut
Meminyaki telah menjadi tradisi lama dari Sunnah yang menjadi tips kecantikan Islam untuk alasan yang baik. Minyak rambut secara aktif diserap oleh kulit kepala, yang bergantung pada nutrisi untuk memelihara folikel rambut. Minyak rambut menjaga kepadatan rambut tetap sehat dan mencegah kerontokan.
Minyak rambut sering digunakan oleh Nabi Suci (SAW), yang lebih jauh menekankan pentingnya dalam tips kecantikan Islam. Ketika Jabir bin Samurah (RA) ditanya tentang rambut abu-abu Nabi Suci (SAW), dia berkata: ‘Jika dia menaruh minyak di kepalanya, mereka tidak akan terlihat, tetapi jika dia tidak menaruh minyak di kepalanya, mereka bisa dilihat ”(An- Nasa’i).
3. Henna
Henna dibuat dengan menggiling daun kering dan batang tanaman Henna, Lawsonia inermis, menjadi bubuk halus dan kemudian mencampurnya dengan air atau minyak untuk membuat pasta, yang disebut dengan pacar. Pada zaman Nabi (SAW), baik pria maupun perempuan menggunakan pacar untuk mewarnai rambut mereka. Perempuan juga menggunakan pacar untuk menghiasi tangan dan kaki mereka.
Diceritakan Aisha (RA): “Seorang perempuan membuat tanda dari balik tirai untuk menunjukkan bahwa dia memiliki surat untuk Rasul Allah (SAW). Nabi (SAW) menutup tangannya, mengatakan, “Saya tidak tahu apakah ini tangan pria atau perempuan.” Dia berkata: “Tidak, seorang perempuan.” Dia berkata, “Jika seorang perempuan, akan membuat perbedaan pada kuku mereka, (artinya dengan pacar).” (Sunan Abu-Dawud).